BUANA DEWATA RENTCAR AND TOURS SERVICE
Reservasi Telp or SMS 0821 4516 1780, 0821 4440 6129 (Simpati)
0818 0546 1079 (XL)
Tampilkan postingan dengan label Hari Raya Nyepi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari Raya Nyepi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 April 2014

Berbicara mengenai tradisi yang ada di Bali memang tidak akan pernah habis dibahas. Sebagai daerah tujuan wisata Bali selalu memiliki hal yang menarik baik itu alam, budaya maupun tradisinya. Bali memiliki banyak sekali tradisi yang unik yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia, salah satunya adalah tradisi “Omed-Omedan” jika dalam bahasa Indonesia berarti saling tarik menarik. Tradisi ini bisa kita temukan di Br. Sesetan Kaja, Denpasar Bali, Omed-Omedan dilaksanakan setiap 1 tahun sekali tepatnya pada ngembak geni yaitu sehari setelah perayaan hari raya Nyepi.

Sejarah Omed-Omedan
Konon mulanya, usai Hari Raya Nyepi, teruna-teruni (pemuda-pemudi) sekitar kerajaan Puri Oka menggelar permainan med-medan. Mereka tarik-menarik, semakin seru dan gembiranya mereka kemudian saling merangkul, dan keadaan menjadi gaduh karenanya. Susasana ricuh tersebut di dengar raja Puri Oka yang sedang sakit, beliau marah besar dan kemudian ia berniat keluar untuk menghardik sumber kegaduhan tersebut. Namun setibanya ia diluar dan menyaksikan adegan itu, amarahnya hilang. Sejenak rasa sakitnya berkurang, dan mendadak hilang hingga ia sehat seperti sedia kala. Sang raja dapat tersenyum, dan bahagia kembali. Semenjak saat itu, raja lalu mengeluarkan titah agar omed-omedan dilaksanakan tiap tahun, tiap tanggal satu tahun Cakka kalender Bali, atau yang dikenal dengan Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi). Menurut I Gusti Ngurah Oka, tradisi ini merupakan luapan kebahagiaan anak-anak muda saat Ngambek Geni. Selain sebagai unsur hiburan, sampai saat ini tradisi omed-omedan memiliki beberapa fungsi, di antaranya adalah penghormatan terhadap leluhur, memupuk rasa kesetiakawanan dalam kerangka saling asah, asih dan asuh. Juga menjaga keharmonisan hubungan sesuai dengan norma yang berlaku, membangun solidaritas dan persatuan masyarakat dalam situasi bahagia.

Prosesi Omed-Omed
Para teruna-teruni yang mengikuti tradisi adalah warga Banjar yang menginjak dewasa namun belum menikah, umumnya berusia 17 hingga 30 tahun. Sebelum acara dimulai sekitar pukul 14.00 wita, mereka berkumpul untuk bersembahyang bersama. Seusai kegiatan tersebut, semua peserta dibagi menjadi dua kelompok. Yang putra menjadi satu barisan, dan yang putri berada pada barisan lain. Kedua kelompok tersebut mengambil posisi saling berhadapan di jalan utama desa. Setelah seorang sesepuh desa memberikan aba-aba, kedua kelompok saling mendekat. Peserta yang akan melakukan tradisi ini digendong sesuai urutannya, kemudian di pertemukan dengan pasangan lawan jenisnya. Setelah bertemu pada suatu titik kemudian mereka saling tarik menarik, berpelukan dan berciuman disaksikan ribuan penonton termasuk warga sekitar.
Prosesi tersebut dilakukan bergantian dan bergiliran hingga semua peserta kebagian berciuman. Namun menurut cerita, untuk mencium pasangan tidaklah mudah, mengingat ramainya dan berjubel para penonton yang memadati area. Bagi mereka yang berhasil mencium pasangannya, dibolehkan berhenti setelah para tetua adat membunyikan peluit. Jika tidak berhasil, pasangan tersebut akan disiram air hingga basah kuyub. Awalnya siraman air ini hanya diberlakukan untuk pasangan yang gagal berciuman, namun karna antusias dengan kemeriahan tersebut, hampir tiap peserta diguyur setelah usai berciuman. Sehingga tradisi ini memang rentan dengan air dan basah-basahan.

sumber : http://sampattitour.wordpress.com/2013/11/29/tradisi-omed-omedan-tarik-menarik/



Berbicara mengenai tradisi yang ada di Bali memang tidak akan pernah habis dibahas. Sebagai daerah tujuan wisata Bali selalu memiliki hal yang menarik baik itu alam, budaya maupun tradisinya. Bali memiliki banyak sekali tradisi yang unik yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia, salah satunya adalah tradisi “Omed-Omedan” jika dalam bahasa Indonesia berarti saling tarik menarik. Tradisi ini bisa kita temukan di Br. Sesetan Kaja, Denpasar Bali, Omed-Omedan dilaksanakan setiap 1 tahun sekali tepatnya pada ngembak geni yaitu sehari setelah perayaan hari raya Nyepi.

Sejarah Omed-Omedan
Konon mulanya, usai Hari Raya Nyepi, teruna-teruni (pemuda-pemudi) sekitar kerajaan Puri Oka menggelar permainan med-medan. Mereka tarik-menarik, semakin seru dan gembiranya mereka kemudian saling merangkul, dan keadaan menjadi gaduh karenanya. Susasana ricuh tersebut di dengar raja Puri Oka yang sedang sakit, beliau marah besar dan kemudian ia berniat keluar untuk menghardik sumber kegaduhan tersebut. Namun setibanya ia diluar dan menyaksikan adegan itu, amarahnya hilang. Sejenak rasa sakitnya berkurang, dan mendadak hilang hingga ia sehat seperti sedia kala. Sang raja dapat tersenyum, dan bahagia kembali. Semenjak saat itu, raja lalu mengeluarkan titah agar omed-omedan dilaksanakan tiap tahun, tiap tanggal satu tahun Cakka kalender Bali, atau yang dikenal dengan Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi). Menurut I Gusti Ngurah Oka, tradisi ini merupakan luapan kebahagiaan anak-anak muda saat Ngambek Geni. Selain sebagai unsur hiburan, sampai saat ini tradisi omed-omedan memiliki beberapa fungsi, di antaranya adalah penghormatan terhadap leluhur, memupuk rasa kesetiakawanan dalam kerangka saling asah, asih dan asuh. Juga menjaga keharmonisan hubungan sesuai dengan norma yang berlaku, membangun solidaritas dan persatuan masyarakat dalam situasi bahagia.

Prosesi Omed-Omed
Para teruna-teruni yang mengikuti tradisi adalah warga Banjar yang menginjak dewasa namun belum menikah, umumnya berusia 17 hingga 30 tahun. Sebelum acara dimulai sekitar pukul 14.00 wita, mereka berkumpul untuk bersembahyang bersama. Seusai kegiatan tersebut, semua peserta dibagi menjadi dua kelompok. Yang putra menjadi satu barisan, dan yang putri berada pada barisan lain. Kedua kelompok tersebut mengambil posisi saling berhadapan di jalan utama desa. Setelah seorang sesepuh desa memberikan aba-aba, kedua kelompok saling mendekat. Peserta yang akan melakukan tradisi ini digendong sesuai urutannya, kemudian di pertemukan dengan pasangan lawan jenisnya. Setelah bertemu pada suatu titik kemudian mereka saling tarik menarik, berpelukan dan berciuman disaksikan ribuan penonton termasuk warga sekitar.
Prosesi tersebut dilakukan bergantian dan bergiliran hingga semua peserta kebagian berciuman. Namun menurut cerita, untuk mencium pasangan tidaklah mudah, mengingat ramainya dan berjubel para penonton yang memadati area. Bagi mereka yang berhasil mencium pasangannya, dibolehkan berhenti setelah para tetua adat membunyikan peluit. Jika tidak berhasil, pasangan tersebut akan disiram air hingga basah kuyub. Awalnya siraman air ini hanya diberlakukan untuk pasangan yang gagal berciuman, namun karna antusias dengan kemeriahan tersebut, hampir tiap peserta diguyur setelah usai berciuman. Sehingga tradisi ini memang rentan dengan air dan basah-basahan.

sumber : http://sampattitour.wordpress.com/2013/11/29/tradisi-omed-omedan-tarik-menarik/



Hari Ngembak Geni adalah berakhirnya waktu melakukan Brata Nyepi, pelaksanaan hari Ngembak Geni ini jatuh sehari setelah Hari Raya Nyepi. Pada hari Ngembak Geni, seluruh umat Hindu di Bali melakukan sembahyangan dan memanjatan doa kepada Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) dengan permohonan agar pada tahun baru Saca berikan kemudahan, kebaikan dan kembali menjadi manusia baru lagi,yang bersih juga suci dari segala dosa dosa dimasa lalu.

Dalam bahasa Bali Ngembak artinya bebas dan Geni artinya api, jadi Ngembak Geni bila dirangkai bermakna bebas menyalakan api (dalam pengertian luas terbebas dan dapat kembali beraktifitas), setelah melasanakan Brata Nyepi selama 24 jam pada saat hari Raya Nyepi.

Setelah selesai, dilakukan dharma santi (bersilaturahmi dan saling memaafkan), baik di lingkungan teman, keluarga maupun masyarakat.
Setelah itu seluruh aktifitas boleh dilakukakan lagi.Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi. Kita senantiasa mohon maaf kehadapan-Nya tetapi jika kita tidak memaafkan orang lain, maka doa itu akan sia-sia, tidak dikabulkan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Ngembak Geni sendiri adalah merupakan salah satu tahapan dalam pelaksanaan hari raya Nyepi, yang mana tahapan-tahapan tersebut adalah :

1. Tahap pertama Melasti, yaitu membuang mala dalam upaya mensucikan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.
2. Tahap kedua Tawur, yaitu caru yang bertujuan mengharmoniskan Tri Hita Karana.
3. Tahap ketiga Sipeng, yaitu menggelar tapa-berata-yoga-samadi.
4. Tahap keempat Ngembak Geni, yaitu mengakhiri tapa-berata-yoga-samadi, dan ber Dharma Santi dalam bentuk saling berkunjung dan saling memaafkan.
5. Tahap kelima adalah nunas tirta amertha pada Purnama Kadasa, di saat mana Ida Sanghyang Widhi memberkati dunia dan isinya agar sejahtera menghadapi tahun yang akan datang.(Stiti Dharma on line/Bhagawan Dwija)

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan, setelah melaksanakan Ngembak Geni ini diharapkan dapat tercapai keharmonisan sesuai dengan Tri Hita Karana, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam, juga hubungan manusia dengan Sang Pencipta ( Tuhan Yang Maha Esa), agar benar benar menjadi awal permulaan yang baru dalam menjalankan kehidupan saat ini dan akan datang.

dikutip dari : http://www.wisatadewata.com/article/adat-kebudayaan/upacara-ngembak-geni

Hari Ngembak Geni adalah berakhirnya waktu melakukan Brata Nyepi, pelaksanaan hari Ngembak Geni ini jatuh sehari setelah Hari Raya Nyepi. Pada hari Ngembak Geni, seluruh umat Hindu di Bali melakukan sembahyangan dan memanjatan doa kepada Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) dengan permohonan agar pada tahun baru Saca berikan kemudahan, kebaikan dan kembali menjadi manusia baru lagi,yang bersih juga suci dari segala dosa dosa dimasa lalu.

Dalam bahasa Bali Ngembak artinya bebas dan Geni artinya api, jadi Ngembak Geni bila dirangkai bermakna bebas menyalakan api (dalam pengertian luas terbebas dan dapat kembali beraktifitas), setelah melasanakan Brata Nyepi selama 24 jam pada saat hari Raya Nyepi.

Setelah selesai, dilakukan dharma santi (bersilaturahmi dan saling memaafkan), baik di lingkungan teman, keluarga maupun masyarakat.
Setelah itu seluruh aktifitas boleh dilakukakan lagi.Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi. Kita senantiasa mohon maaf kehadapan-Nya tetapi jika kita tidak memaafkan orang lain, maka doa itu akan sia-sia, tidak dikabulkan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Ngembak Geni sendiri adalah merupakan salah satu tahapan dalam pelaksanaan hari raya Nyepi, yang mana tahapan-tahapan tersebut adalah :

1. Tahap pertama Melasti, yaitu membuang mala dalam upaya mensucikan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.
2. Tahap kedua Tawur, yaitu caru yang bertujuan mengharmoniskan Tri Hita Karana.
3. Tahap ketiga Sipeng, yaitu menggelar tapa-berata-yoga-samadi.
4. Tahap keempat Ngembak Geni, yaitu mengakhiri tapa-berata-yoga-samadi, dan ber Dharma Santi dalam bentuk saling berkunjung dan saling memaafkan.
5. Tahap kelima adalah nunas tirta amertha pada Purnama Kadasa, di saat mana Ida Sanghyang Widhi memberkati dunia dan isinya agar sejahtera menghadapi tahun yang akan datang.(Stiti Dharma on line/Bhagawan Dwija)

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan, setelah melaksanakan Ngembak Geni ini diharapkan dapat tercapai keharmonisan sesuai dengan Tri Hita Karana, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam, juga hubungan manusia dengan Sang Pencipta ( Tuhan Yang Maha Esa), agar benar benar menjadi awal permulaan yang baru dalam menjalankan kehidupan saat ini dan akan datang.

dikutip dari : http://www.wisatadewata.com/article/adat-kebudayaan/upacara-ngembak-geni

Jumat, 28 Maret 2014

Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan; biasanya dalam wujud Rakshasa.

Selain wujud Rakshasa, Ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada, Syurga dan Naraka, seperti: naga, gajah, garuda, Widyadari, bahkan dewa. Dalam perkembangannya, ada yang dibuat menyerupai orang-orang terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama bahkan penjahat. Terkait hal ini, ada pula yang berbau politik atau SARA walaupun sebetulnya hal ini menyimpang dari prinsip dasar Ogoh-ogoh. Contohnya Ogoh-ogoh yang menggambarkan seorang teroris.

Dalam fungsi utamanya, Ogoh-ogoh sebagai representasi Bhuta Kala, dibuat menjelang Hari Nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa pada senja hari Pangrupukan, sehari sebelum Hari Nyepi.

Menurut para cendekiawan dan praktisi Hindu Dharma, proses ini melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan Bhuana Agung (alam raya) dan Bhuana Alit (diri manusia). Dalam pandangan Tattwa (filsafat), kekuatan ini dapat mengantarkan makhluk hidup, khususnya manusia dan seluruh dunia menuju kebahagiaan atau kehancuran. Semua ini tergantung pada niat luhur manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya sendiri dan seisi dunia.



Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan; biasanya dalam wujud Rakshasa.

Selain wujud Rakshasa, Ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada, Syurga dan Naraka, seperti: naga, gajah, garuda, Widyadari, bahkan dewa. Dalam perkembangannya, ada yang dibuat menyerupai orang-orang terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama bahkan penjahat. Terkait hal ini, ada pula yang berbau politik atau SARA walaupun sebetulnya hal ini menyimpang dari prinsip dasar Ogoh-ogoh. Contohnya Ogoh-ogoh yang menggambarkan seorang teroris.

Dalam fungsi utamanya, Ogoh-ogoh sebagai representasi Bhuta Kala, dibuat menjelang Hari Nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa pada senja hari Pangrupukan, sehari sebelum Hari Nyepi.

Menurut para cendekiawan dan praktisi Hindu Dharma, proses ini melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan Bhuana Agung (alam raya) dan Bhuana Alit (diri manusia). Dalam pandangan Tattwa (filsafat), kekuatan ini dapat mengantarkan makhluk hidup, khususnya manusia dan seluruh dunia menuju kebahagiaan atau kehancuran. Semua ini tergantung pada niat luhur manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya sendiri dan seisi dunia.




Hari Raya Pengerupukan adalah sebuah kebudayaan dari umat Hindu yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Pengerupukan ini dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi (hari di mana semua umat Hindu tidak beraktifitas sama sekali). Di Hari Raya Pengerupukan ini semua umat Hindu bersukaria merayakan sebuah upacara untuk mengusir para roh-roh jahat. Dan sarana yang digunakan untuk mengusir roh-roh jahat tersebut, disebut ogoh-ogoh.

Ogoh-ogoh adalah sebuah patung yang berukuran cukup besar, dan diarak keliling desa. Ogoh-ogoh itu sendiripun digambarkan sebagai Bhuta Kala (setan) sebuah sosok yang besar, tinggi dan menakutkan. Bahan untuk membuat ogoh-ogoh adalah bahan-bahan yang berasal dari alam. Tapi setelah jaman semakin maju, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat ogoh-ogoh pun semakin beragam.

Ogoh-ogoh sebenarnya bukanlah sebuah upakara (sarana upacara) yang harus/wajib dibuat pada saat Hari Raya Pengerupukan. Ogoh-ogoh tersebut baru mulai dibuat sekitar tahun 1980 an, dan seiring dengan berjalannya waktu perhelatan ogoh-ogoh pun menjadi sebuah kebiasaan di setiap Hari Raya Rengerupukan ini dan bahkan menjadi sebuah tontonan yang menarik minat para wisatawan yang sedang berada di Bali.

Itulah sedikit gambaran tentang Hari Raya Pengerupukan. Lalu, kegiatan apa saja yang biasa dilaksanakan pada saat Hari Raya Pengerupukan ? rutinitas di Hari Raya pengerupukan itu di pagi harinya kita mebat (kegiatan memasak daging babi, ayam dll sebenarnya intinya dibuat untuk persembahan). Setelah itu biasanya kita membuat sarana-sarana untuk pelaksanaan mecaru (sebuah kegiatan upacara) yang akan dilaksanakan di sore harinya. Contohnya seberti kulkul (kentongan), tetimpugan (sebuah alat yang nantinya akan dibantingkan ke tanah agar mengeluarkan suara yang menggelegar), dan danyuh (kumpulan daun kelapa kering yang nantinya akan dibakar). Setelah menjelang sore hari. pergi ke Pura (tempat umat Hindu bersembahyang) untuk mengambil sebuah Tirta (air suci) yang dibagikan oleh Pemangku (orang suci umat Hindu) yang kemarin didapatkan saat Upacara Melasti di laut. Saat sudah pukul 06:00 pm tepat, Upacara mecaru pun dimulai. Seluruh anggota keluarga upacara itu bersama-sama. Kita semua bersorak-sorak keliling area rumah, membunyikan kentongannya, mengibar-ngibarkan api dari danyuh, membanting-bantingkan tetimpugannya ke tanah, pokoknya gimana caranya kita mesti bisa membuat suara-suara yang mengelegar se alam semesta agar para bhuta kala (setan) semuanya takut, dan akhirnya pergi dari area rumah.

Dan setelah acara mecaru itu berakhir (setiap rumah melakukan upacara mecaru tersebut). Semua orang keluar rumah untuk mengarak ogoh-ogoh yang sudah mereka siapkan/kerjakan dari 1 bulan lalu. Ogoh-ogoh diarak keliling desa, sama seperti saat mecaru semua warga bersorak-sorak sambil mengarak ogoh-ogoh agar para bhuta kala (setan) keluar dari desa.


Hari Raya Pengerupukan adalah sebuah kebudayaan dari umat Hindu yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Pengerupukan ini dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi (hari di mana semua umat Hindu tidak beraktifitas sama sekali). Di Hari Raya Pengerupukan ini semua umat Hindu bersukaria merayakan sebuah upacara untuk mengusir para roh-roh jahat. Dan sarana yang digunakan untuk mengusir roh-roh jahat tersebut, disebut ogoh-ogoh.

Ogoh-ogoh adalah sebuah patung yang berukuran cukup besar, dan diarak keliling desa. Ogoh-ogoh itu sendiripun digambarkan sebagai Bhuta Kala (setan) sebuah sosok yang besar, tinggi dan menakutkan. Bahan untuk membuat ogoh-ogoh adalah bahan-bahan yang berasal dari alam. Tapi setelah jaman semakin maju, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat ogoh-ogoh pun semakin beragam.

Ogoh-ogoh sebenarnya bukanlah sebuah upakara (sarana upacara) yang harus/wajib dibuat pada saat Hari Raya Pengerupukan. Ogoh-ogoh tersebut baru mulai dibuat sekitar tahun 1980 an, dan seiring dengan berjalannya waktu perhelatan ogoh-ogoh pun menjadi sebuah kebiasaan di setiap Hari Raya Rengerupukan ini dan bahkan menjadi sebuah tontonan yang menarik minat para wisatawan yang sedang berada di Bali.

Itulah sedikit gambaran tentang Hari Raya Pengerupukan. Lalu, kegiatan apa saja yang biasa dilaksanakan pada saat Hari Raya Pengerupukan ? rutinitas di Hari Raya pengerupukan itu di pagi harinya kita mebat (kegiatan memasak daging babi, ayam dll sebenarnya intinya dibuat untuk persembahan). Setelah itu biasanya kita membuat sarana-sarana untuk pelaksanaan mecaru (sebuah kegiatan upacara) yang akan dilaksanakan di sore harinya. Contohnya seberti kulkul (kentongan), tetimpugan (sebuah alat yang nantinya akan dibantingkan ke tanah agar mengeluarkan suara yang menggelegar), dan danyuh (kumpulan daun kelapa kering yang nantinya akan dibakar). Setelah menjelang sore hari. pergi ke Pura (tempat umat Hindu bersembahyang) untuk mengambil sebuah Tirta (air suci) yang dibagikan oleh Pemangku (orang suci umat Hindu) yang kemarin didapatkan saat Upacara Melasti di laut. Saat sudah pukul 06:00 pm tepat, Upacara mecaru pun dimulai. Seluruh anggota keluarga upacara itu bersama-sama. Kita semua bersorak-sorak keliling area rumah, membunyikan kentongannya, mengibar-ngibarkan api dari danyuh, membanting-bantingkan tetimpugannya ke tanah, pokoknya gimana caranya kita mesti bisa membuat suara-suara yang mengelegar se alam semesta agar para bhuta kala (setan) semuanya takut, dan akhirnya pergi dari area rumah.

Dan setelah acara mecaru itu berakhir (setiap rumah melakukan upacara mecaru tersebut). Semua orang keluar rumah untuk mengarak ogoh-ogoh yang sudah mereka siapkan/kerjakan dari 1 bulan lalu. Ogoh-ogoh diarak keliling desa, sama seperti saat mecaru semua warga bersorak-sorak sambil mengarak ogoh-ogoh agar para bhuta kala (setan) keluar dari desa.

Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.

PENGERTIAN NYEPI

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.
Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "tilem sasih kesanga" (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

Puncak acara Nyepi

Keesokan harinya, yaitu pada pinanggal pisan, sasih Kedasa (tanggal 1, bulan ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan)), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).
Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan pada tahun yang baru.

Ngembak Geni (Ngembak Api)

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada "pinanggal ping kalih" (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari ke dua. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih. Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia di seluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan. Hidup di dalam kerukunan dan damai.


Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.

PENGERTIAN NYEPI

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.
Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "tilem sasih kesanga" (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

Puncak acara Nyepi

Keesokan harinya, yaitu pada pinanggal pisan, sasih Kedasa (tanggal 1, bulan ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan)), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).
Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan pada tahun yang baru.

Ngembak Geni (Ngembak Api)

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada "pinanggal ping kalih" (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari ke dua. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih. Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia di seluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan. Hidup di dalam kerukunan dan damai.


Recent Updates